MAKALAH HAKEKAT PENDIDIKAN


HAKEKAT PENDIDIKAN
MAKALAH
Diajukan untuk mata kuliah :
LANDASAN PENDIDIKAN

NAMA KELOMPOK4 :
Abidin Arridho Ajitama (121024207)
Mochammad Arsyad (121024037)
Mega Sintia Anggraeni (121024049)
Nadia Dewi Eka Amelia sari (121024014)

DOSEN :
Drs. Suprayitno

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN KURIKULUM & TEKNOLOGI PENDIDIKAN 2012-A
SURABAYA
2012

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat, serta hidayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah “Landasan Pendidikan “.Semoga jerih payah kami dicatat sebagai amal baik yang nantinya bisa bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi seluruh mahasiswa pada umumnya.
Dalam makalah ini akan kami uraiakan tentang “HAKIKAT PENDIDIKAN” yang mungkin tidak asing lagi ditelinga kita sekalian.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telahmembantu dengan tulus hingga terselesaikannya tugas ini, khususnya kepada Bapak Drs. Suprayitno.Akhirnya kami berharap semoga tugas yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Surabaya, 21 September 2012

Penyusun Kelompok 4

DAFTAR ISI
SAMPUL LUAR 1
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I : PENDAHULUAN 4
A. Latar Belakang 4
B. Rumusan Masalah 4
BAB II : PEMBAHASAN 5
A. Definisi Hakikat Pendidikan 5
B. Pendekatan Redaksional 6
C. Pendekatan Holistik Integratif 8
BAB III : PENUTUP 10
A. Kesimpulan 10
B. Daftar Pustaka 10

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan kegiatan yang sangat penting bagi penyiapan anak-anak untuk menghadapi kehidupannya di masa mendatang. Bahkan gajala proses pendidikan ini sudah ada sejak manusia ada, meskipun proses pelaksanaanya masih sangat sederhana. Namun hal ini merupakan fenomena bahwa proses pendidikan sejak dahulu kala sudah ada. Karena begitu sederhananya proses pendidikan pada jaman dahulu kala itu maka dirasa orang tidak menyadari bahwa apa yang dilakukan itu adalah proses pendidikan.
Proses pendidikan memang masalah universal, dialami oleh setiap bangsa atau suku bangsa. Oleh karena itu akan terpengaruh oleh berbagai fasilitas, budaya, situasi serta kondisi bangsa atau suku bangsa tersebut. Dengan demikian akan terlihat adanya perbedaan-perbedaan yang dapat dilihat dalam pelaksanaan pendidikan tersebut. Namun yang jelas akan kita lihat adanya kesamaan tujuan yakni untuk mendewasakan anak dalam arti anak akan dapat berdiri sendiri di tengah masyarakat luas. Lebih-lebih bila di lihat di Negara-negara yang sudah maju akan jauh berbeda pelaksanaanya disbandingkan dengan di Negara-negara atau daerah-daerah yang belum maju
B. RUMUSAN MASALAH
1. Definisi HAKIKAT PENDIDIKAN ?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Menurut Bahasa

1. Bahasa indonesia, pendidikan merupakan perbuatan ( hal, cara ) mendidik.
2. Bahasa jawa, berasal dari kata panggulawentah yang berarti mengolah, membina kejiwaan dengan mematangkan perasaan, kemauan dan watak sang anak.
3. Bahasa belanda, berasal dari istilah “opvoeding” yang dalam arti luas diartikan tindakan untuk membesarkan anak dalam arti geestelyk ( kebatinan, jawa ).
4. Bahasa romawi, berasal dari istilah “educare” yang bermakna “membangunkan” kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan potensial yang dimiliki anak.

B. Menurut Para Ahli / Tokoh Pendidikan
1. Langeveld
Mendidik adalah memberikan pertolongan secara sadar dan sengaja pada seorang anak ( yang belum dewasa ) dalam pertumbuhannya menuju kearah kedewasaan dalam arti berdiri sendiri dan bertanggung jawab sesuai atas segala tindakan – tindakanya menurut pilihannya sendiri. Langeveld juga mengemukakan tiga hakikat manusia :
a. Manusia hakekatnya sebagai makhluk sosial.
b. Manusia hakekatnya sebagai makhluk individual.
c. Manusia hakekatnya sebagai makhluk susila.
2. John Dewey
Pendidikan merupakan tuntunan terhadap proses pertumbuhan dan proses sosialisasi dari anak.
3. Ki Hajar Dewantara
Pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak – anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mendapat keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi – tingginya.
Dilihat dari aspek – aspek dari pengertian tersebut maka pendidikan dapat diartikan sebagai daya upaya untuk memajukan perkembangan budi pekerti ( kekuatan batin ), pikiran ( intelek ) dan jasmani anak – anak.

C. Menurut Pandangan Mono Disipliner
Dalam rangka menjawab pertanyaan apa hakekat pendidikan itu, sementara ahli hanya berorientasi kepada salah satu (mono) disiplin ilmu tertentu saja.
Mereka itu antara lain adalah:
1. Pandangan Sosiologi
Menurut pandangan ini pendidikan hendaknya dilihat sebagai aspek sosial. Oleh karena itu pendidikan dirumuskan sebagai: usaha (proses) pewarisan sosial dari generasi ke generasi (Redja Mudyahardjo, 1985:3)
2. Menurut Pandangan Antropologi (budaya)
Pandangan ini melihat pendidikan dari segi budaya. Oleh karena itu pendidikan dirumuskan sebagai: usaha pemindahan nilai-nilai budaya ke generasi berikutnya. Inti kebudayaan disimpulkan adalah bermacam-macam pengetahuan. Hal ini sering dikenal sebagai proses cultur overdrach. Pandangan ini sejalan dengan pandangan aliran Essensialisme
3. Menurut Pandangan Psikologi
Berbeda dengan kedua pandangan terdahulu, pandangan ini banyak cabang-cabangnya, sebanyak aliran jiwa yang ada, misalnya behaviorisme, individualisme (ilmu jiwa, individual), psiko analitik dan lain-lainnya. Jika orientasinya kepada behaviorisme, maka aspek tingkah laku (behavior) yang di pentingkan. Jika orientasinya ilmu jiwa individual, maka aspek pribadi utuh yang diutamakan.
4. Pandangan dari Sudut Ekonomi
Pandangan ini melihat pendidikan sebagai usaha penanaman modal insane (human ivensment)
5. Menurut Pandangan Politik
Pandangan dari sudut politik, pendidikan diartikan sebagai usaha pembinaan kader bangsa, cinta bangsa
6. Menurut Pandangan Filosofis tentang Hakikat Manusia (Antropologi Filsafat)
Terhadap hakikat manusia terdapat banyak sekali pandangan-pandangan yang satu dengan yang lain saling berbeda:
a) Manusia sebagai homo religious (makhluk beragama), maka hakekat pendidikan berarti: mengembangkan kesadaran beragam melalui pendidikan agama
b) Manusia sebagai Homo sapiens (makhluk rasional/berpikir), maka hakekat pendidikan ialah mengembangkan kemampuan berpikir anak/subjek didik, melalui pendidikan intelektual (kognitif)
c) Manusia sebagai homo economicus makhluk ekonomis/kesadaran ekonomi, maka hakikat pendidikan adalah: membimbing anak hingga dpat bertindak sesuai prinsip-prinsip ekonomi.
d) Manusia sebagai homo fiber (makhluk berpiranti), maka hakikat pendidikan adalah: mengembangkan dan melatih berbagai macam keterampilan
e) Manusia sebagai homo etis (makhluk susila), hakikat pendidikan ialah:menanamkan norma-norma kesusilaan dan mampu berbuat susila.
f) Manusia sebagai homo socius (makhluk sosial), hakikat pendidikan adalah proses sosialisasi atau mempersiapkan hidup di masyarakat.
g) Manusia sebagai homo mono dualis (makhluk dwi tunggal), yaitu jasmani dan rohani hakikat pendidikan berarti: mengembangkan kedua aspek tersebut sebagai kesatuan.
h) Manusia sebagai makhluk homo mono pluralis (makhluk seutuhnya dari macam-macam segi), maka hakikat pendidikan berarti: mengmbangkan semua sisi kepribadiannya (individu, sosial, agama, kecerdasan, ketrampilan, dan seterusnya)

D. Menurut Pandangan Multi Disipliner
a) Cara membahas pengertian pendidikan ditinjau dari berbagai disiplin ilmu atau dari aspek kehidupan secara keseluruhan disebut tinjauan secara multi disipliner. Dalam tinjauan pendidikan di lihat sebagai suatu system.
b) Berdasarkan tinjauan multi disipliner, Redja Mudyahardjo (1986:3) mengembangkan bahwa pendidikan adalah keseluruhan kerja insansi yang terbentuk dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan fungsional dalam membantu terjadinya proses transformasi atau perubahan tingkah laku seseorang sehingga mencapai kualitas hidup yang di harapkan.

E. Konsep Pendidikan Ditinjau Dari Perundang-Undangan Indonesia
Bila dilihat dari perkembangan pendidikan di Indonesia sudah sejak lama tokoh-tokoh pendidikan di Negara kita menentang system pendidikan penjajahan (Belanda, Inggris, Jepang). Dengan konsepsi masing-masing sekaligus para tokoh pendidikan ini mulai memikirkan (merenungkan) dan merintis bagaimana konsep pendidikan (Nasional) yang sebenarnya.
Ketetapan MPR No.IV/MPR/197
Setelah melalui kurun waktu yang panjang dari sejak terbentuknya Undang-undang No.4/1950 dan dipertegas serta diluruskan arah tujuan pendidikan nasional, maka melalui sidang umum MPR/1973, rumusan definisi pendidikan mengalami penyempurnaan yang lebih mendasar.
Adapun rumusan tersebut berbunyi sebagai berikut:“Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup”.
Jika dibandingkan rumusan sebelumnya, istilah “membentuk” telah diganti dengan “usaha sadar”, selanjutnya di ikuti dengan “mengembangkan kepribadian dan kemampuan peserta didik di dalam dan di luar sekolah” dan “berlangsung seumur hidup”. Pada rumusan ini terasa bahwa pengaruh para ilmuwan pendidikan lebih besar, karena istilah-istilah yang di pilih mengandung yang Nampak proporsinya lebih tepat dari rumusan sebelumnya.
Istilah membentuk misalnya dapat di tafsirkan merupakan penekanan yang berlebih-lebihan. Padahal manusia tidak mungkin dapat di bentuk sesuka hatinya. Ia mempunyai kepribadian sendiri dan kemampuan sendiri yang tidak dapat di paksa dan hanya mungkin di kembangkan.(Wawasan Kependidikan Guru,1982:43). Selain itu pengertian kegiatan kompleks juga menjadi wadah bagi segala elemen atau unsur yang semula nampaknya saling bertentangan, misalnya apakah hakekat mendidik itu member bantuan, menuntun, mempengaruhi, membentuk atau membimbing mempersiapkan atau melatih seterusnya.
Semua istilah tersebut dapat tercakup dalam istilah “usaha sadar”. Sedangkan dari segi elemen kelembagaan, pendidikan tidak cukup di sekolah saja tetapi harus juga dilaksanakan di luar sekolah. Penegasan tentang lembaga pendidikan di dalam dan di luar sekolah menunjukan peranan bahwa peran pendidikan Luar Sekolah (PLS) yang mempunyai jangkauan makro, semakin besar. Lebih-lebih dengan batas pendidikan seumur hidup. Selain berwawasan modern juga memicu seluruh lapisan masyarakat, sejak lapisan paling bawah sampai teratas, pria maupun wanita berlomba-lomba mengejar ketinggalan melalui media pendidikan yang tersedia. Meskipun demikian sifat keilmuwan justru selalu berkembang, tidak pernah puas diri, tidak pernah berhenti. Banyak segi yang telah di perbaiki, tetapi tetap masih ada kekurangan
a) Undang-Undang RI No.20 Tahun 2003 tentang system Pendidikan Nasional
Dalam UUSP No.20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1 di kemukakan bahwa: pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Dari ayat ini dapat di fahami bahwa kegiatan pendidikan itu mendorong peserta didik secara aktif berbuat untuk membentuk dirinya sehingga diharapkan akan terbentuk manusia-manusia Indonesia yang agamis, mandiri berakhlak mulia terampil berguna bagi bangsa dan Negara.

Dari uraian tersebut baik atas tinjauan asal kata, pendapat para ahli serta perundang-undangan yang ada maka pengertian pendidikan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dari pendidik yang mempunyai tanggung jawab mengenai masa depan anak atau peserta didik
2. Tujuan yang ingin dicapai, yaitu pengembangan diri individu untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai sehingga bermanfaat bagi kepentingan hidupnya sebagai seorang pribadi dan sebagai anggota masyarakat serta mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang selalu berubah
3. Dalam setiap usaha pencapaian tujuan peserta didik dilibatkan dan diikutsertakan secara aktif
4. Proses dan waktu pendidikan berlangsung sepanjang hayat mulai dari lahir hingga manusia meninggal
5. Pencapaian tujuan pendidikan terlaksanakan dalam suatu proses yang memerlukan bimbingan, pengajaran dan latihan yang terencana, teratur dan sistematis
6. Kegiatan pendidikan terselenggara dalam jalur pendidikan di sekolah dan pendidikan di luar sekolah.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

I. Hakikat pendidikan adalah suatu proses menumbuhkembangkan eksistensi peserta didik yang memasyarakat, membudaya dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal, nasional dan global.

DAFTAR PUSTAKA

Fernandez perez, Miguel .1982 . Krisis Dalam Pendidikan. Jakarta : PNBalai Pustaka.
Prof . Dr.Tilaar , H.A.R.M.Sc.Ed. 2002 . Pendidikan dan Masyarakat madani Indonesia .Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s